Aku masih ingat betul sore itu. Sore yang membuatku hingga kini merasa sesak dada ini terasa.
kamis 16.00 WIB aku, ibuku dan kakakku sedang berada dirumah. hari itu Allah mengirim kampungku hujan yang sangat lebat. kami menangis bertiga didapur rumah kami. betapa tidak hujan disertai batu-batu es, genteng-genteng berjatuhan, angin yang turut serta menerbangkan dedaunan hampir saja membuat pandangan kabur, membuat kami bertiga takut jika ini semua murka-Nya pada kami yang selalu mengdustakan-Nya.
sore itu kami berpelukan sambil menangis. hanya bertiga, di sebuah rumah kecil yang tak berdaya dibelai angin yang sedang sedikit liar mengelus-elus rumah kami.
saya memeluknya “ibuku” dan ” kakakku” erat. seakan itulah sore terakhir kita dapat bersama lagi didunia. seakan esok tak akan ada lagi hari yang rela untuk kami tapaki lagi.
terasa sekali dekap hangat, cinta umi untuk ku. terlihat wajah cemasnya akan keadaan sore itu. sambil mulut tetap bertasbih kepada-Nya umi tetap menjaga kami.
sore ini saat ku menulis diary ini hujan lebat. ku teringat umi di rumah…
Ya Allah Engkau sebaik-baiknya pelindung kami. Maka lindungi umi Ya Rabb sungguh dia harta hamba yang paling berharga.
Baik-baik di rumah mi!!!



Hi......